Ting ting ting, suara sendok yang beradu dengan piring di kantin menemani aku dan temanku yang sedang menunggu Reyfa.
     
Reyfa adalah salah satu temanku yang pakaiannya paling berbeda karena dia biasa memakai baju hasil thriftshopping (belanja barang bekas) atau barang baru tetapi hasil kustomisasi.
    
Tidak lama kemudian ia datang dengan  kaus hitam polos yang dibalut dengan jaket track ala tahun 80-an hasil thriftshopping, celana boyfriend jeans, serta woman oxford shoes yang ia pesan khusus dari salah satu onlineshop.
     
Meskipun tetap tidak semua mahasiswa memakai setelan seperti Reyfa di atas, tetapi gaya seperti ini tidak hanya dimiliki Reyfa. Beberapa youtuber fashion ada yang gayanya juga klasik, seperti bestdressed dan The Purple Place.

Lalu, kenapa thriftshopping bisa digemari?
“Gue lebih suka beli baju bekas daripada merk fast fashion (H&M, Uniqlo,dll) biar enggak mainstream aja. Kan malu kalo di jalan ketemu orang yang bajunya mirip sama kita cuma karena sama-sama beli di H&M,” ujar Reyfa sambil menyuap mie ayam ke dalam mulutnya.
     
Selain ucapan Reyfa ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan kenapa thriftshopping jadi banyak penggemar, yaitu pengaruh gaya yang ditunjukkan musisi dan aktris/aktor film.
     
Sejak 2014-2016 musik dari ranah indie semakin naik ke permukaan. Beberapa dari mereka ini memiliki gaya (baik dalam berpakaian atau musik) yang klasik. Bukan tidak mungkin gaya mereka ini dapat mempengaruhi selera penggemar mereka.
    
Sementara andil dari dunia film dapat dilihat dari film-film 2010 ke bawah yang berlatar waktu 1950-1980. Beberapa contohnya adalah Flipped (2010) berlatar waktu 1950-an, Call Me By Your Name (2017) berlatar waktu 1980-an, dan Once Upon A Time In Hollywood (2019) berlatar waktu 1960-an.

Disukai kalangan bawah maupun kalangan atas
      
“Oh mau ke Pasar Baru ya? Zaman tante muda dulu (1990-an) juga suka ke sana. Cuma dulu nyebutnya amrik, bukan thriftshop,” ujar mamah temanku, Hime, sesaat sebelum aku dan Hime berangkat ke Pasar Baru.
     
Pada saat generasi babyboomers masih muda (1990-an) mencari baju bekas hanya bisa di pasar seperti Pasar Senen dan Pasar Baru. Tidak ada baju bekas yang dijual di toko-toko dalam mall yang tertata rapih. Pada era ini para pedagang baju import bekas (amrik) menjajakan jualannya di emperan.
     
Berbeda ketika hobi thriftshopping ini dirasakan generasi millennial, kesukaan mencari baju bekas juga masuk ke kalangan atas. Salah satu buktinya dengan adanya toko baju bekas yang ada di kawasan Alam Sutera.
     
Nama tempatnya adalah Vintage Vibes. Gedungnya tidak tingkat dan bentuknya menyerupai bioskop klasik barat era 1960-an. Gedungnya pun dicat dengan warna-warna yang identik dengan tema retro.
     
Tak hanya bagian luar, bagian dalamnya pun tentu berbeda dengan bagian dalam Pasar Senen dan Pasar Baru. Vintage Vibes jauh lebih lega dan baju-bajunya lebih tertata. Soal harga, mereka memang menjual lebih murah daripada harga barang baru, tetapi tidak semurah yang ada di Pasar Senen ataupun Pasar Baru.
    
Intinya, apapun alasan menyukai thriftshoppingnya – entah untuk mengikuti idola atau hanya ikut-ikutan agar terlihat seperti “anak jarang” – kini yang menjual baju bekas sudah lebih variatif. Tinggal pilih ingin datang ke mana sesuai dengan selera dan kantong.
     
Dengan thriftshopping yang sekarang menjadi tren, ini bukti kalau yang bekas tidak selalu bersifat negatif. Yang bekas juga bisa membekas, berkesan di mata dan di hati.