![]() |
| foto by: Tia Astuti |
Tentunya kalau sedang kumpul pasti ada bahan yang diobrolin dong? Bahan obrolan kesukaan tiap orang tentu berbeda-beda.
Ada yang suka roasting fans fanatik MCU (Marvel Cinematic Universe) kesal waktu Martin Scorsesse (sutradara kondang yang menyutradarai Taxi Driver) mengkritik film-film MCU lebih mirip “Ancol”.
Ada yang lebih suka membahas aksi mahasiswa dan paling menggebu di tongkrongan kalu sudah mengkritik DPR.
Ada pula yang suka membahas kedua hal tadi (suka isu dari dunia hiburan ataupun isu dari dunia politik).
Dari perbedaan ini timbul pertanyaan, apakah perbedaan selera topik obrolan mempengaruhi tingkat kepintaran seseorang?
Pertanyaan ini muncul karena ada beberapa suara yang merasa pernah diremehkan kemampuan berargumennya saat terlibat organisasi ataupun kerja tim. Salah satunya Abil, mahasiswi Universitas Airlangga,”Waktu SMA ada temen ngelempar ide ke anak lain. Terus dia nyautinnya enak karena sama-sama suka politk. Pas gue nimbrung malah kurang ditanggepin,” ceritanya.
Lalu apa jawaban dari pertanyaan tadi
ya?
Isu
yang paling banyak disuka
Dari survei yang dilakukan ke 60 anak muda
di kisaran usia 17-20 tahun, 45 anak muda suka isu hiburan, 4 menyukai isu
politik, dan 11 lainnya menyukai keduanya.
Mereka yang suka isu hiburan berpendapat, tidak semua berita yang berhubungan dengan film, game, dan musik itu lebih ringan daripada membahas politik. Sebab ketiga hal tersebut juga bersifat informatif dan terkadang memancing otak untuk berpikir.
Dari penyuka isu hiburan dan politik berpendapat kalau kedua topik itu sama asiknya untuk dibahas saat kumpul. Itu semua tergantung isu apa yang sedang hangat di masyarakat.
Apakah
ada hubungan antara topik obrolan kesukaan dengan tingkat kepintaran seseorang?
Dr. Stephen Sampson, seorang ahli
psikologi, menulis dalam bukunya Leaders Without Title setidaknya ada 4
hal yang membentuk intelektualitas seseorang, yaitu apakah dia tidak mudah
percaya hoax (berpikir faktual), bisa menghubungkan antarfakta yang ada
(berpikir logikal), bisa membuat konsep dari fakta-fakta yang sudah ada
(berpikir konseptual), dan apakah dia bisa menerapkan konsep yang sudah dia
buat ke lapangan (berpikir operasional).
Menariknya, dari survey ke-60 anak muda di kisaran usia 17-20 tahun yang sudah diolah pada aplikasi statistik (SPSS) dengan sistem regresi dan korelasi ini menyatakan bahwa perbedaan selera obrolan anak muda dengan tingkat kecerdasan tidak memliki hubungan sama sekali lho!
Mereka pun merasa pada saat lempar ide saat rapat atau kerja kelompok, penyuka isu hiburan dan penyuka isu politik memiliki kecerdasannya masing-masing. Mereka berpendapat kalau teman-teman yang memiliki selera obrolan berbeda ini mengeluarkan ide-ide yang unik di bidangnya masing-masing.
Kesimpulannya, anak yang suka isu politik belum tentu lebih cerdas dari yang suka isu hiburan, begitupun sebaliknya. Jadi kalau besok masih ada yang meremehkan kemampuanmu saat menyampaikan ide tidak perlu minder lagi ya. Kan sudah tahu kalau perbedaan selera obrolan dengan tingkat kecerdasan tidak memiliki hubungan sama sekali. (TA)

0 Comments